Thursday 25 May 2017

SANDWICH GENERATION



SANDWICH GENERATION
Sebuah Catatan

Sandwich Generation adalah sebutan bagi generasi berusia 30 s.d. 40 tahunan yang sudah menikah dan punya anak yang masih butuh biaya hidup dan pendidikan. Namun pada saat yang bersamaan, mereka juga harus membiayai orang tuanya yang sudah sepuh dan tak lagi punya penghasilan.

Disebut Sandwich Generation karena mereka seolah memiliki beban ganda: di bawah harus membiayai anak-anaknya sendiri; di atas juga harus menanggung biaya orang tua atau adik-adiknya, lantaran orang tuanya tak lagi punya penghasilan (akibat perencanaan pensiun yang buruk).

Sandwich Generation merebak karena mayoritas orang tua di Indonesia gagal menyusun proses perencanaan pensiun yang baik.

So what?

Sandwhich Generation tidak hanya terjadi di Indonesia. Fenonema ini amat banyak terjadi di berbagai negara di dunia.

Saya tak tahu apakah Anda, saudara atau keluarga di sekitar Anda, punya tantangan yang sama dengan Sandwhich Generation itu atau tidak.

Membantu memberikan nafkah pada orang tua, atau adik-adik yang masih membutuhkan biaya pendidikan tentu merupakan sebuah kemuliaan. Anda akan dicap durhaka jika mengelak dari tanggung jawab itu.

Namun proses itu mungkin memberikan beban yang cukup berat terutama jika keluarga muda tadi penghasilannya juga relatif terbatas; dan masih butuh biaya banyak untuk menghidup istri dan anak-anaknya.

Kenapa banyak terjadi fenomena Sandwhich Generation? Ya itu tadi. Karena mayoritas orang tua di Indonesia tidak punya perencanaan pensiun yang baik.

Seperti yang pernah saya tulis, 90% karyawan Indonesia tidak siap menghadapi pensiun secara finansial.

Perhitungan konservatif menunjukkan, sepasang orang tua mungkin butuh minimal 10 juta per bulan untuk sekedar hidup di kota besar. 5 juta per bulan kalau di kota kecil.

Artinya, setelah pensiun di usia 56, para orang tua itu harus sanggup menghasilkan Rp 10 juta/bulan.

Sayangnya, dulu saat masih muda banyak yang tidak memikirkannya. Mengalir saja hidupnya.

Nah pas saat benar-benar pensiun, mereka tiba-tiba bingung darimana bisa mendapat uang Rp 10 juta/bulan secara rutin padahal sudah pensiun. Dan ini harus dilakukan hingga usia 70an tahun (usia rata-rata hidup orang Indonesia).

Akibatnya, banyak yang kemudian menggantungkan hidup dari setoran bulanan anak-anaknya.

Fenomena itu saya duga cukup banyak terjadi di Indonesia. Sebab memang sebuah survei pernah menemukan fakta kelam: mayoritas orang Indonesia itu buruk dalam melakukan perencanaan jangka panjang hidupnya.

Saat muda tidak pernah cermat melakukan perencanaan jangka panjang. Walhasil saat tua dan sudah pensiun cenderung bergantung pada dukungan finansial anak-anaknya. Lahirlah Sandwich Generation.

Harapannya, Anda tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Anda yang berusia 30 – 40 tahun dan sekarang berperan sebagai orang tua harus berusaha agar kelak tidak menciptakan Sandwich Generation pada anak-anak Anda yang masih belia.

Caranya bagaimana?

Anda harus berpikir keras sejak sekarang bagaimana agar kelak ketika Anda sudah pensiun dan tidak lagi kerja, tetap bisa menghasilkan income minimal Rp 10 juta/bulan (syukur lebih).

Soal risiko ini penting. Banyak pensiunan baru yang terjebak investasi bodong. Ratusan bahkan ribuan kasus terjadi dimana uang pensiun yang baru didapat malah hilang karena ikut program investasi abal-abal.

Itu kembali soal perencanaan jangka panjang. Karena tergiur janji hasil investasi instan yang menggiurkan, langsung setor uang ratusan juta hasil pensiun. Banyak orang tua yang ternyata mudah tergoda hasil instan juga. Sad but true.

Sandwich Generation adalah kondisi yang sejatinya kurang ideal dilihat dari perspektif pengelolaan keuangan. Sandwich Generation lahir karena kegagalan dalam merencanakan kehidupan masa tua setelah pensiun.

Agar kelak Anda tidak melahirkan Sandwich Generation pada anak-anak Anda, maka sekarang renungkan: apa yang akan Anda lakukan sehingga kelak setelah pensiun bisa tetap dapat uang bulanan minimal Rp 10 juta atau bahkan 20 juta per bulan.

Pikirkan dan lakukan action sekarang. Menunda-nunda hanya akan membuat penyesalan panjang di masa depan.

Diambil dari:
*_Optimum Strategies for Creativity &  Longevity_*

No comments: